Sertifikasi Kakao Diluncurkan

13 Mei 2010

JAKARTA -- Perusahaan pengolahan kakao, PT Mars Symbioscience Indonesia (MSI) bersama Business Watch Indonesia (BWI), Rainforest Alliance, dan UTZ meluncurkan indikator nasional untuk kriteria sertifikasi kakao yang lestari, di Jakarta, kemarin. Tujuannya untuk mendorong peningkatan kualitas produk dan harga.

Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian, Achmad Manggabarani, mengatakan, dengan adanya indikator sertifikasi ini, petani dapat menjamin kualitas kakao dan memenuhi tuntutan konsumen yang selama ini sering dikeluhkan di pasar internasional.

"Seperti kita ketahui, mutu kakao kita dikenal kurang bagus,dengan adanya indikator sertifikasi kita harapkan ada langkah untuk memperbaikinya," jelas Achmad saat jumpa pers peluncuran Indikator Nasional Sertifikasi Kakao Lestari di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu, 12 Mei.

Turut hadir Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementerian Pertanian Zaenal Bachruddin, Presdir MSI Noel Janetski, Peter Sprang dari Rainforest Alliance, dan Angela Tejada dari UTZ.

Achmad menambahkan meskipun program ini sagat baik untuk petani, namun sekarang belum menjadi keharusan untuk diterapkan. Sebab ada sejumlah indikator yang memang cukup berbeda dengan standar nasional Indonesia (SNI).

"Tujuan kami sebenarnya agar petani jangan sekadar panen dan jual kakaonya dengan harga rendah. Jadi agak sedikit berbeda dengan SNI karena sertifikasi ini tidak saja untuk mutu tapi juga lingkungan untuk menjaga produktivitas tetap tinggi," tambah Achmad.

Noel Janetski mengatakan, Indonesia memiliki peran penting dalam bisnis kakao dunia sebagai negara penghasil terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana. Kakao Indonesia mampu menghasilkan 580.000 ton. Sekira 380.000 ton diekspor untuk memenuhi pasar dan memberikan kontribusi sekira USD 1,2 miliar. Sektor ini menyerap tanaga kerja sekitar 1,1 juta orang dengan total lahan 1,4 juta hektare.

"Saat ini, tuntutan sertifikasi kelestarian kakao makin bertambah. Konsumen tak hanya menuntut kualitas produk baik, juga cara-cara produksi yang bertanggung jawab terhadap aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan," kata Noel kepada wartawan.

Oleh karena itu, perusahaan yang berkantor di Kawasan Industri Makassar (KIMA) ini berupaya untuk memberikan dukungan kepada petani dan pengembangan kelestarian tanaman kakao. "Adanya sertifikasi ini, akan membantu memastikan produksi kakao yang akan membawa manfaat untuk seluruh stakeholders," terang Noel.

Zaenal Bachruddin menambahkan bahwa peluncuran sertifikasi ini merupakan suatu langkah maju untuk menjamin kesejahteraan petani dan kelestarian jangka panjang pertanian kakao di Indonesia. Bahkan, sertifikasi ini akan membantu industri kakao mendapatkan pasokan biji kakao yang bermutu tinggi dan produksi berkelanjutan. (die)

Fajar Online

Bookmark and Share

Berita Lainnya

  • National indicators to promote cocoa quality

    14 Mei 2010

    Cocoa industry stakeholders, including government officials, representatives of cacao processing companies and farmers, as well as international certification organizations, have launched national indicators for sustainable cocoa production to ensure the growth and development of cacao farming. Selengkapnya »

  • Indikator Sertifikasi Kakao Lestari Dirilis

    13 Mei 2010

    PT Mars Symbioscience Indonesia (MSI) resmi merilis indikator nasional untuk kriteria sertifikasi perkebunan kakao yang lestari. Prinsip-prinsip pada indikator yang menjadi pertama di Indonesia itu meliputi tiga kriteria utama, yakni ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Selengkapnya »

  • Mars Symbioscience rilis indikator sertifikasi kakao

    12 Mei 2010

    JAKARTA (Bisnis.com): PT Mars Symbioscience, produsen pengolahan kakao di Sulawesi Selatan, bersama dengan Business Watch Indonesia (BWI), Rainforest Alliance dan UTZ meluncurkan indikator nasional untuk kriteria sertifikasi kakao yang berkelanjutan. Selengkapnya »